Mengapa Obat Tidak Mempan? Mengenal Pentingnya Pharmacogenomics

​Seringkali kita merasa sudah rutin mengonsumsi obat sesuai aturan, namun penyakit tak kunjung sembuh. Fenomena obat yang tidak manjur ini ternyata bisa dipengaruhi oleh faktor internal tubuh kita sendiri, yaitu genetika.

Pengaruh Profil Genetik terhadap Efektivitas Obat

​Alasan utama mengapa pengobatan terkadang gagal adalah karena obat yang dikonsumsi tidak sesuai dengan profil genetik pasien. Setiap individu memiliki kode genetik yang unik, yang menentukan bagaimana tubuh merespons zat kimia tertentu.

Beberapa fakta penting terkait kondisi ini antara lain:

​Variasi Genetik di Indonesia: Data menunjukkan sekitar 40 persen orang Indonesia
memiliki variasi genetik yang memengaruhi respons tubuh terhadap obat.

​Risiko Pengobatan Standar: Jika pasien dengan variasi genetik tertentu tetap diberikan dosis atau jenis obat standar yang sama dengan orang umum, obat tersebut
bisa menjadi tidak ampuh.

​Kerugian Pasien: Ketidakcocokan ini berujung pada pemborosan biaya (buang uang) tanpa mendapatkan kesembuhan yang diharapkan.

Contoh Kasus dalam Keseharian

​Ketidakcocokan genetik ini sering ditemui pada penanganan penyakit umum, seperti:
​Batuk:Banyak orang terbiasa langsung membeli obat umum (seperti parasetamol) tanpa mengetahui penyebab pasti batuknya, padahal efektivitasnya sangat bergantung pada kecocokan profil tubuh.

​Hipertensi: Dua pasien dengan tekanan darah tinggi belum tentu cocok dengan obat yang sama. Sebagai contoh, satu orang mungkin merespons baik terhadap Candesartan, sementara yang lain lebih cocok dengan Captopril.

Solusi Masa Depan: Pharmacogenomics

​Dunia farmasi kini mengembangkan pendekatan yang disebut Pharmacogenomics. Ini adalah metode penyesuaian jenis dan dosis obat berdasarkan profil genetik masing-masing pasien.
​Dengan pendekatan ini, pengobatan menjadi lebih personal (personalized medicine), lebih akurat, dan meminimalisir risiko kegagalan terapi.


​Sumber: detik health & PT Akmal Aulia Tasnim